Minggu, 10 Januari 2016

Makalah Perkembangan Bahasa



BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
            Setiap manusia, dalam hal ini khususnya peserta didik akan mengalami berbagai perkembangan dalam fase kehidupannya. Antara lain perkembangan biologis, perkembangan perseptual, perkembangan kognitif, perkembangan bahasa dan perkembangan kemandirian.
             Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan salah satu dari perkembangan-perkembangan tersebut yaitu perkembangan bahasa.
            Setiap insan memiliki potensi yang sama untuk menguasai bahasa. Proses dan sifat penguasaan bahasa setiap orang berlangsung dinamis dan melalui tahapan berjenjang. Manusia mengawali komunikasinya dengan dunia sekitarnya melalui bahasa tangis. Seorang bayi melatih bahasa tersebut dengan mengkomunikasikan segala kebutuhan dan keinginannya. Perkembangan bahasa tersebut selalu meningkat sesuai dengan meningkatnya usia anak.
            Berpikir adalah daya yang paling utama dan merupakan ciri yang khas yang membedakan manusia dengan hewan. Manusia dapat berpikir karena manusia mempunyai bahasa, sedangkan hewan tidak. Bahasa hewan bukanlah bahasa seperti yang dimiliki manusia. Bahasa hewan adalah bahasa insting yang tidak perlu dipelajari dan diajarkan. Bahasa manusia adalah hasil dari kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan.
            Dengan bahasa manusia dapat memberi nama kepada segala sesuatu baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Semua benda, nama sifat, pekerjaan, dan hal yang yang abstrak, diberi nama. Secara singkat bahasa adalah alat yang terpenting bagi manusia.

B.   Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang di maksud dengan perkembangan bahasa ?
2.      Jelaskan tahap perkembangan bahasa !
3.      Jelaskan teori perolehan bahasa !
4.      Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa !
5.      Jelaskan langkah-langkah yang dapat membantu perkembangan bahasa anak !
6.      Jelaskan fungsi perkembangan kemampuan bahasa anak !
7.      Bagaimana implikasi perkembangan bahasa terhadap perdidikan ?



C.   Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan perkembangan bahasa.
2.      Untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan bahasa.
3.      Untuk mengetahui teori perolehan bahasa.
4.      Untuk mengetahui fakto-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa.
5.      Untuk mengetahui langkah-langkah yang dapat membantu perkembangan bahasa anak.
6.      Unruk mengetahui bagaimana implikasi perkembangan bahasa terhadap perdidikan.
7.      Untuk memahami fungsi perkembangan kemapuan bahasa anak.
8.      Untuk memenuhi tugas perkemnbangan peserta didik.

D.   Manfaat
·         Bagi pembaca:
1.      Dapat menjadi pedoman dalam pembuatan makalah perkembangan bahasa.
·         Bagi penulis:
1.      Menambah wawasan mengenai perkembangan bahasa.













BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Perkembangan Bahasa
            Untuk memahami karakteristik utama bahasa, beberapa ahli berpendapat sebagai berikut:
1) Santrock dan Yussen (Semiawan, 1999:109-110) mengidentifikasinya sebagai berikut, yaitu :
1.      Words, setiap bahasa mempunyai kata-kata(words). Kata-kata yang dimaksud dapat saja merujuk pada objek-objek, orang, aktivitas, kejadian dan bahkan ide-ide yang abstrak. Suatu kata dapat saja menggambarkan sesuatu yang biasanya disetujui oleh suatu kelompok pengguna bahasa tersebut. Oleh karena itulah untuk bahasa yang berbeda mempunyai nama yang berbeda untuk menunjuk sesuatu yang sama.
2.      Sequencing, urutakn kata-kata merupakan karakteristik yang dikehendaki dalam suatu bahasa. Urutan kata-kata sangat dibutuhkan dalam membentuk suatu kalimat yang utu, lengkap, dan memiliki makna.
3.      Infinity generativity, yaitu suatu kemampuan individu dalam menghasilkan sejumlah kalimat bermakna yang terbatas dan menggunakan suatu himpunan kata serta aturan yang terbatas, sehingga menjadikan bahasa sebagai suatu perusahaan yang sangat kreatif. Dengan demikian, secara sederhana dalam hal ini dapat dikatakan bahwa bahasa adalah suatu alat yang produktif dan kreatif.
4.      Displacement, adalah penggunaan bahasa untuk mengkomunikasikan informasi tentang sesuatu tempat dan waktu yang lain, walaupun kita menggunakan bahasa untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi di lingkungan kita.oleh sebab itu, kiranya dapat dimaklumibahwa bahasa tidak hanya berkontribusi untuk transmisi pengetahuan dari individu ke individu, melainkan juga dari suatu generasi ke generasi di masa mendatang.
5.      Rule system, merupakan aspek yang sangat penting sebagai karakteristik suatu bahasa. System ini dapat disebut juga tatabahasa(grammar). Tatabahasa adalah suatu himpunan terbatas dari prinsip-prinsip operasional yang menjelaskan hubungan antara symbol-simbol yang membentuk suatu bahasa.
2) Pengertian bahasa yang lain juga dikemukakan oleh Badudu (dalam Gunarti, dkk, 2008: 1.35) yang menyatkan bahasa adalah alat penghubung atau komunikasi antar anggota masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran, perasaan dan keinginannya. Bahasa sebagai suatu sistem bunyi yang arbitler (mana suka) dipergunakan masyarakat dalam rangkakerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
3) Robert E Owen (semiawan, 1999:111) menjelaskan bahwa bahasa dapat didefinisikan sebagai kode yang dapat diterima secara social atau system konvesional untuk menyampaikan konsep melalui penggunakan symbol-simbolyang dikehendaki dan kombinasi symbol-simbol yang dikehendaki dan diatur oleh ketentuan.
4) Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan suatu pikiran, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimic muka.( Syamsu Yusuf, 2004:118).
            Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan kode atau suatu system lambang berupa bunyi (lisan), tertulis, dan urutan kata-kata yang diterima secara konvensional dan digunakan oleh suatu masyarakat untuk menyampaikan konsep-konsep atau ide-ide dan berkomunikasi melalui penggunaan symbol-simbol yang disepakati dan kombinasi symbol-simbol yang diatur oleh ketentuan yang ada.
            Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bayi yang tingkat intelektual belum berkembang dan masih sangat sederhana, bahasa yang digunakannya sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana menuju ke bahasa yang kompleks.
            Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain, “meniru” dan “mengulang” hasil yang telah didapatkan merupakan cara belajar bahasa awal. Bayi bersuara, “mmm mmm”, ibunya tersenyum, mengulang menirukan dengan memperjelas dan memberi arti suara itu menjadi “maem maem”. Bayi belajar menambah kata-kata dengan meniru bunyi yang didengarnya. Manusia dewasa (terutama ibunya) disekeliliingnya membetulkan dan memperjelas. Belajar bahasa yang sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia 6-7 tahun, disaat anak mulai bersekolah.
            Jadi perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat, mampu menguasai alat komunkasi disini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain.

B.   Tahapan Perkembangan Bahasa
            Secara umum, perkembangan keterampilan berbahasa pada individu menurut Berk (1989¬) dapat dibagi ke dalam empat komponen atau system yang saling mempengaruhi, yaitu fonologi (phonology), semantik (semantic), tata bahasa (grammar), dan pragmatic (pragmatics).
            Fonologi berkenaan dengan bagaimana individu memeahami dan menghasilkan bunyi bahasa. Jika kita pernah mengunjungi daerah lain atau Negara lain yang bahasanya tidak kita mengerti boleh jadi kita akan kagum, heran, atau bingung karena bahasa orang asli di sana terdengar begitu cepat dan sepertinya tidak putus-putus antara satu kata dengan kata yang lain. Sebaliknya, orang asing yang sedang belajar bahasa kita juga sangat mungkin mengalami hambatan karena tidak familier dengan bunyi kata-kata dan pola intonasinya. Bagaimana seseorang memperoleh fasilitas kemampuan memahami bunyi kata dan intonasi merupakan sejarah perkembangan fonologi.
            Semantik merujuk kepada makna kata atau cara yang mendasari konsep-konsep yang ekspresikan dalam kata-kata atau kombinasi kata. Setelah selesai masa prasekolah, anak-anak memperoleh sejumlah kata-kata baru dalam jumlah yang banyak. Penelitian intensif tentang perkembangan kosa kata pada anak-anak diibaratkan oleh Berk (1989) sebagai sejauh mana kekuatan anak untuk memahami ribuan pemetaan kata-kata ke dalam konsep-konsep yang dimiliki sebelumnya meskipun belum tertabelkan dalam dirinya dan kemudian menghubungkannya dengan kesepakatan dalam bahasa masyarakatnya.
            Grammar merujuk kepada penguasaan kosa kata dan memodifikasikan cara-cara yang bermakna. Pengetahuan grammar meliputi dua aspek utama.
a)      sintak (syntax), yaitu aturan-aturan yang mengatur bagaimana kata-kata disusun ke dalam kalimat yang dipahami.
b)      morfologi (morphology), yaitu aplikasi gramatikal yang mliputi jumlah, tenses, kasus, pribadi, gender, kalimat aktif, kalimat pasif, dan berbagai makna lain dalam bahasa.
            Pragmatik merujuk kepada sisi komunikatif dari bahasa. Ini berkenaan dengan bagaimana menggunakan bahasa dengan baik ketika berkomunikasi dengan orang lain. Di dalamnya meliputi bagaimana mengambil kesempatan yang tepat, mencari dan menetapkan topik yang relevan, mengusahakan agar benar-benar komunikatif, bagaimana menggunakan bahasa tubuh (gesture), intonasi suara, dan menjaga konteks agar pesan-pesan verbal yang disampaikan dapat dimaknai dengan tepat oleh penerimanya. Pragmatik juga mencakup di dalamnya pengetahuan sosiolinguistik, yaitu bagaimana suatu bahasa harus diucapkan dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Agar dapat berkomunikasi dengan berhasil, seseorang harus memahami dan menerapkan cara-cara interaksi dan komunikasi yang dapat diterima oleh masyarakat tertentu, seperti ucapan selamat datang dan selamat tinggal serta cara mengucapkannya. Selain itu, seseorang juga harus memperhatikan tata krama berkomunikasi berdasarkan hirarki umur atau status sosial yang masih dijunjung tinggi dalam suatu masyarakat tertentu.
            Menurut Ahmad Susanto (2001: 75) terhadap perkembangan ini sebagai berikut:
1.      Tahap I (Pralinguistik), yaitu antara 0 – 1 tahun
Tahap ini terdiri dari tahap meraban-1 (pralinguistik pertama) dimulai dari bulan pertama hingga bulan keenam dimanan anak akan mulai menangis, tertawa, dan menjerit. Tahap meraban-2 (pralinguistikkedua) pada dasarnya merupakan tahap kata tanpa makna mulai dari bulan keenan hingga satu tahun.
2.      Tahap II (Linguistik)
Tahap ini terdiri daritahap I dan II. Tahap-1; holafrastik (1 tahun), ketika anak-anak mulai menyatakan makna keseluruhan frasa atau kalimat dalam satu kata. Tahap ini juga ditandai dengan perbendaharaan kata anak hingga kurang lebih 50 kosa kata. Tahap-2; frasa (1 – 2), pada tahap ini anak sudah mampu mengucapkan dua kata (ucapan dua kata). Tahap ini juga ditandai dengan perbendaharaan kata anak sampai dengan rentang 50 – 100 kosakata.
3.      Tahap III (pengembangan tata bahasa, yaitu prasekolah 3,4,5 tahun).
Pada tahap ini anak sudah dapat membuat kalimat, seperti telegram. Dilihat dari aspek pengembangan tata bahasa seperti: S-P-O, anak dapat memperjuangkan kata menjadi satu kalimat.
4.      Tahap IV (tata bahasa menjelang dewasa, yaitu 6 – 8 tahun).
Tahap ini ditandai dengan kemampuan yang mampu menggabungkan kalimat sederhana menjadi kalimat kompleks.

C.   Teori dan Konsep Pemerolehan Bahasa
            Ada 3 teori dalam perolehan bahasa pada anak antara lain:
1.      Teori Behaviorisme
            Teori Behaviorisme mulanya adalah teori belajar dalam psikologi yang telah muncul sejak 1940-an s/d awal 1950-an dan John B. Watson dianggap sebagai pelopor utama dalam teori ini. Kaum behaviorisme menerangkan bahwa proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu oleh rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Istilah bahasa bagi kaum behaviorisme dianggap kurang tepat karenan istilah bahasa itu menyiaratkan suatu wujud, sesuatu yang dimiliki atau digunakan, dan bukan sesuatu yang dilakukan. Padahal bahasa itu merupakan salah satu perilaku, di antara perilaku-perilaku manusia lainnya. Menurut kaum behaviorisme kemampuan berbicara dan memahami bahasa oleh anak diperoleh melalui rangsangan dari lingkungannya. Anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya, tidak memiliki peranan yang aktif di dalam proses perkembangan perilaku verbalnya. Bahkan kaum behaviorisme tidak mengakui kematangan anak dalam pemerolehan bahasa. Kaum behaviorisme tidak mengakui pandangan bahwa anak menguasai kaidah bahasa dan memiliki kemampuan untuk mengabstrakkan cirri-ciri penting dari bahasa di lingkungannya. Mereka berbendapat rangsangan (stimulus) dari lingkungan tertentu memperkuat kemampuan berbahasa anak. Perkembangan bahasa mereka pandang sebagai suatu kemajuan dari pengungkapan verbal yang berlaku secara acak sampai ke kemampuan yang sebenarnya untuk berkomunikasi memalui prinsip pertalian S – P (stimulus – respon) dan proses peniruan-peniruan.
            Skinner, mendefinisikan bahwa pembelajaran dipengaruhi oleh perilaku yang dibentuk oleh lingkungan eksternalnya, artinya pengetahuan merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungannya melalui pengondisian stimulus yang menimbulkan respons. Perubahan lingkungan pembelajaran dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku anak secara bertahap. Perilaku positif pada anak cenderung akan diulang ketika mendapat dorongan yang sesuai dengan kemampuan anak dari lingkungannya. Latihan untuk anak harus menggunakan bentuk-bentuk pertanyaan (stimulus) dan jawaban (respons) yang dikenalkan secara bertahap, mulai dari yang sederhana sampai pada yang lebih rumit.
2.      Teori Nativisme
            Teori ini dipelopori oleh Noam Chomsky pada awal tahun 1960-an sebagai bantahan terhadap teori belajar bahasa yang dilontarkan oleh kaum behaviorisme tersebut, Nativisme berpendapat bahwa selama proses pemerolehan bahasa pertama, kanak-kanak (manusia) sedikit demi sedikit membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah diprogramkan. Pandangan ini tidak mengangggap lingkungan punya pengaruh dalam pemerolehan bahasa, melainkan mengganggap bahwa bahasa merupakan biologis, sejalan dengan yang disebut “hipotesis pemberian alam”.  Kaum nativis berpendapat bahwa bahasa itu terlalu kompleks dan rumit, sehingga mustahil dapat dipelajari dalam waktu singkat melalui metode seperti “peniruan” (imitation). Jadi, pasti ada beberapa aspek penting mengenai system bahasa yang sudah ada pada manusia secara alamiah.
            Menurut Chomsky (1965, 1975) bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, Binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia. Pendapat ini didasarkan pada asumsi. Pertama,perilaku bahasa adalah sesuattu yang diturunkan (genetik); pola perkembangan bahasa adalah sama pada semua macam bahasa dan budaya (merupakan sesuatu yang universal); dan lingkungan hanya memiliki peran kecil di dalan proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dikuasai dalam waktu singkat, anak berusia empat tahun sudah dapat berbicara mirip dengan orang dewasa. Ketiga, lingkungan bahasa si anak tidak dapat menyediakan data secukupnya bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa.
            Menurut Chomsky, seorang anak dibekali “alat pemerolehan bahasa” (language acquisition device (LAD). Alat yang merupakan pemberian biologis yang sudah diprogramkan untuk merinci butir-butir yang mungkin dari suatu tat bahasa, dan dianggap sebagai bagian fisiologis dari otak yang khususuntuk memproses bahasa, yang tidak punya kaitannya dengan kemempuan kognitif lainnya.
3.      Teori Kognitivisme
            Munculnya teori ini dipelopori oleh Jean Piaget (1954) yang mengatakan bahwa bahasa itu salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Jadi perkembangan bahasa itu ditentukan oleh urutan-urutan perkembangan kognitif.
            Menurut Piaget struktur yang kompleks itu bukan pemberian alam dan bukan sesuatu yang dipelajari dari lingkungan melainkan struktur itu timbul secara tak terelakkan sebagai akibat dari interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif anak dengan lingkungan kebahasaannya. Jadi, sebetulnya kaum kognitivisme berusaha menggabungkan peran lingkungan dan faktor bawaan, namun lebih besar ditekankan pada aspek berpikir logis (the power of logical thinking).

D.   Faktor  yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
            Ada dua faktor paling signifikan yang mempengaruhi anak dalam berbahasa, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1.      Faktor Internal
a)      Evolusi Biologi
            Evolusi biologis menjadi salah satu landasan perkembangan bahasa. Mereka menyakini bahwa evolusi biologi membentuk manusia menjadi manusia linguistik. Noam Chomsky (1957) meyakini bahwa manusia terikat secara biologis untuk mempelajari bahasa pada suatu waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Ia menegaskan bahwa setiap anak mempunyai language acquisition device (LAD), yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa. Tahun-tahun awal masa anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa (critical-period). Jika pengenalan bahasa tidak terjadi sebelum masa remaja, maka ketidakmampuan dalam menggunakan tata bahasa yang baik akan dialami seumur hidup. Selain itu, adanya periode penting dalam mempelajari bahasa bisa dibuktikan salah satunya dari aksen orang dalam berbicara. Menurut teori ini, jika orang berimigrasi setelah berusia 12 tahun kemungkinan akan berbicara bahasa negara yang baru dengan aksen asing pada sisa hidupnya, tetapi kalau orang berimigrasi sebagai anak kecil, aksen akan hilang ketika bahasa baru akan dipelajari.
b)      Jenis Kelamin
            Anak perempuan lebih baik dalam belajar bahasa daripada anak laki-laki, baik dalam pengucapan, kosa kata, dan tingkat keseringan berbahasa, daripada anak laki-laki.
c)      Kecerdasan
            Anak yang memiliki kecerdasan tinggi, akan belajar berbicara lebih cepat dan memiliki penguasaan bahasa yang lebih baik daripada anak yang tingkat kecerdasannya rendah. Belajar bahasa erat kaitannya dengan kemampuan berpikir. Bahasa mengungkapkan apa yang dipikirkan anak.
d)     Keinginan dan dorongan untuk berkomunikasi serta hubungan dengan teman sebaya
            Semakin kuat keinginan dan dorongan berkomunikasi dengan orang lain, terutama bermain dengan teman sebaya, akan semakin kuat pula usaha anak untuk berbicara atau berbahasa.
e)      Kepribadian
            Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung memiliki kemampuan berbicara atau berbahasa lebih baik daripada anak yang mengalami masalah atau kendala dalam penyesuaian diri dan sosial. Kemampuan berbahasa anak yang memiliki kepribadian dan penyesuaian diri yang baik juga akan lebih baik secara kuantitas (jumlah kata dan keseringan bicara) maupun secara kualitas (ketepatan pengucapan dan isi/topik pembicaraan).

2.      Faktor Eksternal
a)      Faktor Kognitif (Pola Asuh)
            Individu merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan pada perkembangan bahasa anak. Para ahli kognitif juga menegaskan bahwa kemampuan anak berbahasa tergantung pada kematangan kognitifnya. Tahap awal perkembangan intelektual anak terjadi dari lahir sampai berumur 2 tahun. Pada masa itu anak mengenal dunianya melalui sensasi yang didapat dari inderanya dan membentuk persepsi mereka akan segala hal yang berada di luar dirinya. Misalnya, sapaan lembut dari ibu/ayah ia dengar dan belaian halus, ia rasakan, kedua hal ini membentuk suatu simbol dalam proses mental anak. Perekaman sensasi nonverbal (simbolik) akan berkaitan dengan memori asosiatif yang nantinya akan memunculkan suatu logika. Bahasa simbolik itu merupakan bahasa yang personal dan setiap bayi pertama kali berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa simbolik. Sehingga sering terjadi hanya ibu yang mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya dengan melihat/mencermati bahasa simbol yang dikeluarkan oleh anak. Para ahli sepakat bahwa pemerolehan bahasa sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahasa sekitar. Dengan kata lain, perjalanan pemerolehan bahasa seorang anak akan sangat bergantung pada lingkungan bahasa anak tersebut (Yudibrata, 1998: 65). Sebelum anak memasuki lingkungan sosial yang lebih luas, masa bermain dan bersekolah, lingkungan keluarga sebaiknya bisa menjadi arena yang menyenangkan bagi proses perkembangan bahasa anak. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan orangtua adalah guru pertama yang bisa mengantar anak menuju gerbang pendidikan formal. Sebaik mungkin orangtua membuat kondisi rumah sedemikian rupa agar mampu menghasilkan stimulus positif sebanyak dan sevariatif mungkin. Stimulus yang diberikan orangtua akan terbingkai dalam pola pikir, pola tindak, dan pola ucap anak. Jika orangtua menginginkan anaknya santun berbahasa, maka berikan stimulus yang positif. Setiap aktivitas yang ada dan terjadi di lingkungan rumah merupakan rangkaian dari proses pemerolehan karakter yang sifatnya berkala dan berkesinambungan. Dalam hal ini orangtua berperan sebagai motor penggerak yang memegang kendali pertama dan utama dalam perkembangan bahasa anak melalui (salah satunya) pola asuh yang mendidik.
b)      Lingkungan Luar
            Sementara itu, di sisi lain proses penguasaan bahasa tergantung dari stimulus dari lingkungan. Pada umumnya, anak diperkenalkan bahasa sejak awal perkembangan mereka, salah satunya disebut motherse, yaitu cara ibu atau orang dewasa, anak belajar bahasa melalui proses imitasi dan perulangan dari orang-orang disekitarnya. Pengenalan bahasa yang lebih dini dibutuhkan untuk memperoleh ketrampilan bahasa yang baik. Tiga faktor di atas saling mendukung untuk menghasilkan kemampuan berbahasa maksimal. Orang tua, khususnya, harus memberikan stimulus yang positif pada pengembangan keterampilan bahasa pada anak, seperti berkomunikasi pada anak dengan kata-kata yang baik dan mendidik, berbicara secara halus, dan sebisa mungkin membuat anak merasa nyaman dalam suasana kondusif rumah tangga yang harmonis, rukun, dan damai. Hal tersebut dapat menstimulus anak untuk bisa belajar berkomunikasi dengan baik karena jika anak distimulus secara positif maka akan mungkin untuk anak merespon secara positif pula.
c)      Kesehatan
            Anak yang sehat lebih cepat belajar berbicara dibandingkan dengan anak yang kurang sehat atau sering sakit. Hal ini dikarenakan perkembangan aspek motorik dan aspek mental berbicaranya lebih baik sehingga lebih siap untuk belajar berbicara. Motivasi berbahasa didorong oleh keinginan untuk menjadi anggota kelompok sosial dan berkomunikasi dengan anggota kelompok tersebut. d. Keluarga (jumlah anggota keluarga, urutan kelahiran, dan metode latihan berbicara) Semakin banyak jumlah anggota keluarga, akan semakin sering anak mendengar dan berbicara. Demikian juga, anak pertama lebih baik perkembangan berbicaranya karena orang tua lebih banyak mempunyai waktu untuk mengajak dan melatih mereka berbicara.
            Sedangkan dalam perkembangan berbahasanya, potensi anak untuk berbicara didukung beberapa hal, diantaranya:
·         Kematangan alat berbicara
·         Kesiapan berbicara
·         Adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak
·         Kesempatan berlatih
·         Motivasi untuk belajar dan berlalih
·         Bimbingan

E.    Langkah-langkah untuk Membantu Perkembangan Bahasa Anak
Langakah-langkah untuk membantu perkembangan bahasa anak yaitu :
1.      Membaca, kegiatan ini adalah kegiatan yang paling penting yang dapat dilakukan bersama anak setiap hari. Ketika orang tua membaca, tunjuklah gambar yang ada di buku dan sebutkan nama dari gambar tersebut keras-keras. Mintalah anak untuk menunjuk gambar yang sama dengan yang ada sebutkan tadi.
2.      Berbicaralah mengenai kegiatan sederhana yang orang tua dan anak lakukan dengan menggunakan bahasa yang sederhana.
3.      Perkenalkan kata-kata baru pada anak setiap hari, dapat berupa nama-nama tanaman, nama hewan ataupun nama makanan yang disiapkan baginya.
4.      Cobalah untuk tidak menyelesaikan kalimat anak. Berikan kesempatan baginya untuk menemukan sendiri kata yang tepat yang ingin dia sampaikan.
5.      Berbicaralah pada anak setiap hari, dan pandanglah mereka ketika berbicara atau mendengarkan mereka. Biarkan mereka tahu bahwa mereka sangat penting.

F.    Fungsi Perkembangan Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini
            Dalam pembahasan fungsi berbahasa bagi anak taman kanak-kanak, dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, terutama ditujukan pada fungsi secar langsung pada anak itu sendiri ada beberapa sumber yang telah mencoba mamberikan pembelajaran dari fungsi bahasa bagi anak taman kanak-kanak, diantaranya menurut Depdiknas (dalam zsusanti, 2000) fungsi perkembmangan bahasa bagi anak prasekolah adalah sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungan, sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak, sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak dan sebagai alat untuk menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain.
            Terdapat beberapa fungsi bahasa menurut Halliday (dalam Moeslichatoen 2004: 95) yaitu bahasa sebagai alat yang dapat memuaskan kebutuhan anak untuk menyatakan keinginannya. Hal ini biasanya dinyatakan dengan “saya ingin”.Bahasa juga berfungsi mengatur anak untuk dapat mengendalikan tingkah laku orang lain. Bahasa berfungsi sebagai hubungan antar pribadi dalam lingkungan sosial. Selanjutnya bahasa juga berfungsi bagi diri anak sendiri. Anak menyatakan pandangannya, perasaannya, dan sikapnya yang unik serta melalui bahasa anak dalam membangun jati diri anak.
            Lain halnya menurut Gardner (dalam Susanto 2011: 8) bahwa fungsi bahasa bagi anak taman kanak-kanat adalah sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kemampuan dasar anak. Secara khusus bahwa fungsi bahasa bagi anak taman kanak-kanak adalah untuk mengembangkan ekspresi, perasaan, imajinasi, dan pikiran.
            Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi pengembangan kemampuan berbahasa bagi anak taman kanak-kanak antara lain; (a) sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungan, (b) sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak, (c) sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak, dan (d) sebagai alat untuk menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain.

G.   Implikasi Perkembangan Bahasa Terhadap Pendidikan
            Implikasi perkembangan bahasa anak terhadap segi pendidikan salah satunya adalah terhadap penyelenggaraan pendidikan. Sebagai individu yang sedang tumbuh dan berkembang, maka proses pertumbuhan dan perkembangan peserta didik sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa. Bahasa merupakan sebuah pengantar. Jika telah memahami bahasa maka tidak akan sulit bagi anak untuk menerima pesan ataupun kata-kata yang diucapkan oleh seorang guru. Karena Perkembangan bahasa adalah merupakan proses alamiah yang difasilitasi oleh kesempatan-kesempatan memanfaatkan bahasa dalam aktivitas sehari-hari. Para guru dapat mengintruksikan kepada para siswa untuk mengekspresikan dirinya secara verbal dan dalam bentuk tulisan ketika mereka memecahkan persoalan dan menyelesaikan tugas-tugas akademik.
            Perkembanngan bahasa yang menggunakan model pengeksplorasian secara mandiri, baik lisan maupun tertulis, dengan mendasarkan pada bahan bacaan akan lebih mengembangkan kemampuan bahasa anak membentuk pola bahasa masing-masing. Dalam penggunaan model ini guru harus banyak memberikan rangsangan dan koreksi dalam bentuk diskusi atau komunikasi bebas. Dalam itu saran pengembangan bahasa seperti buku-buku, surat kabar, majalah dan lain-lainnya hendaknya disediakan di sekolah maupun di rumah.  Jadi perkembangan bahasa sangat penting dalam penyelenggaraan proses pendidikan disekolah. Perkembangan bahasa sangat penting karena melalui bahasa, anak dapat mengekspresikan pikiran, sehingga orang lain memahaminya dan menciptakan suatu hubungan sosial. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak.
            Berdasarkan prinsip dalam perkembangan bahasa, implikasinya terhadap perkembangan anak adalah anak dapat lebih leluasa dalam mengembangkan kemampuan bahasanya dalam kehidupan sehari- hari.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Bahasa merupakan kode atau suatu system lambang berupa bunyi (lisan), tertulis, dan urutan kata-kata yang diterima secara konvensional dan digunakan oleh suatu masyarakat untuk menyampaikan konsep-konsep atau ide-ide dan berkomunikasi melalui penggunaan symbol-simbol yang disepakati dan kombinasi symbol-simbol yang diatur oleh ketentuan yang ada.
            Perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat, mampu menguasai alat komunkasi disini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain.
            Secara umum, perkembangan keterampilan berbahasa pada individu menurut Berk (1989¬) dapat dibagi ke dalam empat komponen atau system yang saling mempengaruhi, yaitu fonologi (phonology), semantik (semantic), tata bahasa (grammar), dan pragmatic (pragmatics). Tahapan perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam beberapa tahap yaitu tahap pralinguistik, tahap linguistic, pengembangan tata bahasa, tata bahasa menjelang dewasa.
            Adapun teori  pemerolehan bahasa yaitu teori behaviorisme, teori nativisme, teori kognitivisme. Serta faktor  yang mempengaruhi perkembangan bahasa yaitu factor internal dan factor eksternal.
            Langkah-langkah untuk membantu perkembangan bahasa anak yaitu membaca, berbicaralah mengenai kegiatan sederhana yang orang tua dan anak lakukan dengan menggunakan bahasa yang sederhana, berkenalkan kata-kata baru pada anak setiap hari, cobalah untuk tidak menyelesaikan kalimat anak, berbicaralah pada anak setiap hari, dan pandanglah mereka ketika berbicara atau mendengarkan mereka. Biarkan mereka tahu bahwa mereka sangat penting.
            Fungsi pengembangan kemampuan berbahasa bagi anak taman kanak-kanak antara lain; (a) sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungan, (b) sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak, (c) sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak, dan (d) sebagai alat untuk menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain.
            Implikasi perkembangan bahasa anak terhadap segi pendidikan salah satunya adalah terhadap penyelenggaraan pendidikan. Sebagai individu yang sedang tumbuh dan berkembang, maka proses pertumbuhan dan perkembangan peserta didik sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa. Bahasa merupakan sebuah pengantar. Jika telah memahami bahasa maka tidak akan sulit bagi anak untuk menerima pesan ataupun kata-kata yang diucapkan oleh seorang guru.

BAFTAR PUSTAKA
8.      Buku Perkembangan Peserta Didik


Semoga Bermanfaat ... :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar