Belajar Matematika
Jumat, 19 Januari 2018
Selasa, 12 Januari 2016
Contoh sinopsis novel
POCONG BUNTING
Judul duku : Pocong Buntin
Pengarang :
Fitria Pratnasari
Penerbit : Javalitera
Terbit : Tahun
2012 (cetakan pertama)
Tebal : 218
halaman
Harga buku
:
Rp 41.000,00
Romano dan Jumiet jadi Pocong
gentayangan setelah keduanya bunuh diri nenggak AO kadarluarsa. Mereka
gentayangan karena belom sempat kawin semasa hidupnya. Kedua Pocong sejoli ini
nangis mulu tiap hari, bikin berisik penghuni kuburan lainnya. Akhirnya, demi
ketenangan areal pekuburan, keduanya dinikahin.
Jumiet bunting, ini kabar baik bagi
dunia alam gaib karena kehamilan Jumiet adalah proses keturunan bagi para
Pocong. Sayang, suatu hari Jumiet stress. Dia dilarang loncat-loncat supaya
nggak keguguran. Kisah cinta mereka hampir kandas karena Jumarsih, pemimpin
klan Pocong, memaksa Romano untuk menikahinya. Menurutnya, cuma Romano aja yang
bisa bikin keturunan Pocong. Ini yang bikin Jumiet syok berat dalam
kehamilannya.
Akhirnya, Jumarsih dan Romano
bunting. Padahal Romano kan laki-laki? Romano sterss, apalagi di alam gaib
nggak ada operasi caesar.
Kenapa Romano bisa bunting?
Padahal dia laki-laki. Gimana para Pocong ini melahirkan anak mereka?
Fitria Pratnasari yang lahir di Jakarta, 23
Januari 1989 mulai gemar nulis cerpen,
novel sejak ia duduk di bangku SMA. Ia mendapat dukungan dari semua keluarganya
atas karya-karyanya itu. Penasaran ingin membuat sesuatu yang kontras kayak
horor komedi, setelah melahirkan anak-anak misterius SUTRADARA IBLIS, THE DVAS
(kumpulan cerpen romance, thriller, horor, dan teenlit) yang memuat 3 cerpen
garang dan sanggup membuat adrenali berpacu, yaitu Susuk Pencekal Nyawa, Raja
benting, dan Haus dara. Fitria Pratnasari
berhasil nerbitin Pocong bunting.
Menurut saya, novel ini memiliki
jalan cerita yang unik dan tidak membosankan, juga memiliki sampul yang menarik.
Di novel ini, Fitri Pratnasari sunggu mampu
membius logika ke alam gaib yang nyata. Yang tak hanya sekedar memacu adrenali tapi
bisa bikin ketawa sendiri saat membacanya. Sehingga novel ini memiliki kesan
tersendiri bagi pembacanya. Buat yang penggila horor surprise banget deh karena
horor komedi yang segar dan menghibur, dan buat temen-temen yang penakut, yuk
baca horor kocak yang bikin gemes ini. Dari mulai yang bikin merinding serem sampe
ujung-ujungnya bikin ngakak. Jadi cocok deh buat semua kalangan.
Oktaviani
Sulu’ Padang
XI IPA 7
Minggu, 10 Januari 2016
Makalah Perkembangan Bahasa
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Setiap manusia, dalam hal ini
khususnya peserta didik akan mengalami berbagai perkembangan dalam fase
kehidupannya. Antara lain perkembangan biologis, perkembangan perseptual,
perkembangan kognitif, perkembangan bahasa dan perkembangan kemandirian.
Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan
salah satu dari perkembangan-perkembangan tersebut yaitu perkembangan bahasa.
Setiap insan memiliki potensi yang
sama untuk menguasai bahasa. Proses dan sifat penguasaan bahasa setiap orang
berlangsung dinamis dan melalui tahapan berjenjang. Manusia mengawali
komunikasinya dengan dunia sekitarnya melalui bahasa tangis. Seorang bayi
melatih bahasa tersebut dengan mengkomunikasikan segala kebutuhan dan
keinginannya. Perkembangan bahasa tersebut selalu meningkat sesuai dengan
meningkatnya usia anak.
Berpikir adalah daya yang paling
utama dan merupakan ciri yang khas yang membedakan manusia dengan hewan.
Manusia dapat berpikir karena manusia mempunyai bahasa, sedangkan hewan tidak.
Bahasa hewan bukanlah bahasa seperti yang dimiliki manusia. Bahasa hewan adalah
bahasa insting yang tidak perlu dipelajari dan diajarkan. Bahasa manusia adalah
hasil dari kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan.
Dengan
bahasa manusia dapat memberi nama kepada segala sesuatu baik yang terlihat
maupun yang tidak terlihat. Semua benda, nama sifat, pekerjaan, dan hal yang
yang abstrak, diberi nama. Secara singkat bahasa adalah alat yang terpenting
bagi manusia.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas,
maka penulis merumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apa yang di maksud dengan perkembangan
bahasa ?
2.
Jelaskan tahap perkembangan bahasa !
3.
Jelaskan teori perolehan bahasa !
4.
Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan bahasa !
5.
Jelaskan langkah-langkah yang dapat
membantu perkembangan bahasa anak !
6.
Jelaskan fungsi perkembangan kemampuan
bahasa anak !
7.
Bagaimana implikasi perkembangan bahasa
terhadap perdidikan ?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui apa yang di maksud
dengan perkembangan bahasa.
2.
Untuk mengetahui tahap-tahap
perkembangan bahasa.
3.
Untuk mengetahui teori perolehan bahasa.
4.
Untuk mengetahui fakto-faktor yang
mempengaruhi perkembangan bahasa.
5.
Untuk mengetahui langkah-langkah yang
dapat membantu perkembangan bahasa anak.
6.
Unruk mengetahui bagaimana implikasi
perkembangan bahasa terhadap perdidikan.
7.
Untuk memahami fungsi perkembangan
kemapuan bahasa anak.
8.
Untuk memenuhi tugas perkemnbangan
peserta didik.
D. Manfaat
·
Bagi pembaca:
1.
Dapat menjadi pedoman dalam pembuatan
makalah perkembangan bahasa.
·
Bagi penulis:
1.
Menambah wawasan mengenai perkembangan
bahasa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Perkembangan Bahasa
Untuk memahami karakteristik utama
bahasa, beberapa ahli berpendapat sebagai berikut:
1)
Santrock dan Yussen (Semiawan, 1999:109-110) mengidentifikasinya sebagai
berikut, yaitu :
1.
Words,
setiap bahasa mempunyai kata-kata(words).
Kata-kata yang dimaksud dapat saja merujuk pada objek-objek, orang, aktivitas,
kejadian dan bahkan ide-ide yang abstrak. Suatu kata dapat saja menggambarkan
sesuatu yang biasanya disetujui oleh suatu kelompok pengguna bahasa tersebut.
Oleh karena itulah untuk bahasa yang berbeda mempunyai nama yang berbeda untuk
menunjuk sesuatu yang sama.
2.
Sequencing,
urutakn kata-kata merupakan karakteristik yang dikehendaki dalam suatu bahasa.
Urutan kata-kata sangat dibutuhkan dalam membentuk suatu kalimat yang utu,
lengkap, dan memiliki makna.
3.
Infinity
generativity, yaitu suatu kemampuan individu dalam
menghasilkan sejumlah kalimat bermakna yang terbatas dan menggunakan suatu
himpunan kata serta aturan yang terbatas, sehingga menjadikan bahasa sebagai
suatu perusahaan yang sangat kreatif. Dengan demikian, secara sederhana dalam
hal ini dapat dikatakan bahwa bahasa adalah suatu alat yang produktif dan
kreatif.
4.
Displacement,
adalah
penggunaan bahasa untuk mengkomunikasikan informasi tentang sesuatu tempat dan
waktu yang lain, walaupun kita menggunakan bahasa untuk menjelaskan apa yang
sedang terjadi di lingkungan kita.oleh sebab itu, kiranya dapat dimaklumibahwa
bahasa tidak hanya berkontribusi untuk transmisi pengetahuan dari individu ke
individu, melainkan juga dari suatu generasi ke generasi di masa mendatang.
5. Rule system, merupakan
aspek yang sangat penting sebagai karakteristik suatu bahasa. System ini dapat
disebut juga tatabahasa(grammar).
Tatabahasa adalah suatu himpunan terbatas dari prinsip-prinsip operasional yang
menjelaskan hubungan antara symbol-simbol yang membentuk suatu bahasa.
2)
Pengertian bahasa yang lain juga dikemukakan oleh Badudu (dalam Gunarti, dkk,
2008: 1.35) yang menyatkan bahasa adalah alat penghubung atau komunikasi antar
anggota masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran,
perasaan dan keinginannya. Bahasa sebagai suatu sistem bunyi yang arbitler
(mana suka) dipergunakan masyarakat dalam rangkakerja sama, berinteraksi, dan
mengidentifikasikan diri.
3)
Robert E Owen (semiawan, 1999:111) menjelaskan bahwa bahasa dapat didefinisikan
sebagai kode yang dapat diterima secara social atau system konvesional untuk
menyampaikan konsep melalui penggunakan symbol-simbolyang dikehendaki dan
kombinasi symbol-simbol yang dikehendaki dan diatur oleh ketentuan.
4)
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Tercakup
semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam
bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan suatu pikiran, seperti dengan
menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimic muka.( Syamsu
Yusuf, 2004:118).
Berdasarkan beberapa pendapat di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan kode atau suatu system
lambang berupa bunyi (lisan), tertulis, dan urutan kata-kata yang diterima
secara konvensional dan digunakan oleh suatu masyarakat untuk menyampaikan
konsep-konsep atau ide-ide dan berkomunikasi melalui penggunaan symbol-simbol
yang disepakati dan kombinasi symbol-simbol yang diatur oleh ketentuan yang ada.
Perkembangan bahasa terkait dengan
perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh
terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bayi yang tingkat intelektual belum
berkembang dan masih sangat sederhana, bahasa yang digunakannya sangat
sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami
lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana
menuju ke bahasa yang kompleks.
Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh
lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari
lingkungan. Anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain,
“meniru” dan “mengulang” hasil yang telah didapatkan merupakan cara belajar
bahasa awal. Bayi bersuara, “mmm mmm”, ibunya tersenyum, mengulang menirukan
dengan memperjelas dan memberi arti suara itu menjadi “maem maem”. Bayi belajar
menambah kata-kata dengan meniru bunyi yang didengarnya. Manusia dewasa
(terutama ibunya) disekeliliingnya membetulkan dan memperjelas. Belajar bahasa
yang sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia 6-7 tahun, disaat anak mulai
bersekolah.
Jadi perkembangan bahasa adalah
meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat komunikasi
dengan cara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat, mampu
menguasai alat komunkasi disini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat
memahami dan dipahami orang lain.
B. Tahapan
Perkembangan Bahasa
Secara umum, perkembangan
keterampilan berbahasa pada individu menurut Berk (1989¬) dapat dibagi ke dalam
empat komponen atau system yang saling mempengaruhi, yaitu fonologi (phonology),
semantik (semantic), tata bahasa (grammar), dan pragmatic (pragmatics).
Fonologi berkenaan dengan bagaimana
individu memeahami dan menghasilkan bunyi bahasa. Jika kita pernah mengunjungi
daerah lain atau Negara lain yang bahasanya tidak kita mengerti boleh jadi kita
akan kagum, heran, atau bingung karena bahasa orang asli di sana terdengar
begitu cepat dan sepertinya tidak putus-putus antara satu kata dengan kata yang
lain. Sebaliknya, orang asing yang sedang belajar bahasa kita juga sangat
mungkin mengalami hambatan karena tidak familier dengan bunyi kata-kata dan
pola intonasinya. Bagaimana seseorang memperoleh fasilitas kemampuan memahami
bunyi kata dan intonasi merupakan sejarah perkembangan fonologi.
Semantik merujuk kepada makna kata
atau cara yang mendasari konsep-konsep yang ekspresikan dalam kata-kata atau
kombinasi kata. Setelah selesai masa prasekolah, anak-anak memperoleh sejumlah
kata-kata baru dalam jumlah yang banyak. Penelitian intensif tentang
perkembangan kosa kata pada anak-anak diibaratkan oleh Berk (1989) sebagai
sejauh mana kekuatan anak untuk memahami ribuan pemetaan kata-kata ke dalam
konsep-konsep yang dimiliki sebelumnya meskipun belum tertabelkan dalam dirinya
dan kemudian menghubungkannya dengan kesepakatan dalam bahasa masyarakatnya.
Grammar merujuk kepada penguasaan
kosa kata dan memodifikasikan cara-cara yang bermakna. Pengetahuan grammar
meliputi dua aspek utama.
a)
sintak (syntax), yaitu aturan-aturan
yang mengatur bagaimana kata-kata disusun ke dalam kalimat yang dipahami.
b)
morfologi (morphology), yaitu aplikasi
gramatikal yang mliputi jumlah, tenses, kasus, pribadi, gender, kalimat aktif,
kalimat pasif, dan berbagai makna lain dalam bahasa.
Pragmatik merujuk kepada sisi
komunikatif dari bahasa. Ini berkenaan dengan bagaimana menggunakan bahasa
dengan baik ketika berkomunikasi dengan orang lain. Di dalamnya meliputi
bagaimana mengambil kesempatan yang tepat, mencari dan menetapkan topik yang
relevan, mengusahakan agar benar-benar komunikatif, bagaimana menggunakan
bahasa tubuh (gesture), intonasi suara, dan menjaga konteks agar pesan-pesan
verbal yang disampaikan dapat dimaknai dengan tepat oleh penerimanya. Pragmatik
juga mencakup di dalamnya pengetahuan sosiolinguistik, yaitu bagaimana suatu
bahasa harus diucapkan dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Agar dapat
berkomunikasi dengan berhasil, seseorang harus memahami dan menerapkan
cara-cara interaksi dan komunikasi yang dapat diterima oleh masyarakat
tertentu, seperti ucapan selamat datang dan selamat tinggal serta cara mengucapkannya.
Selain itu, seseorang juga harus memperhatikan tata krama berkomunikasi
berdasarkan hirarki umur atau status sosial yang masih dijunjung tinggi dalam
suatu masyarakat tertentu.
Menurut Ahmad Susanto (2001: 75)
terhadap perkembangan ini sebagai berikut:
1.
Tahap I (Pralinguistik), yaitu antara 0
– 1 tahun
Tahap ini terdiri dari
tahap meraban-1 (pralinguistik pertama) dimulai dari bulan pertama hingga bulan
keenam dimanan anak akan mulai menangis, tertawa, dan menjerit. Tahap meraban-2
(pralinguistikkedua) pada dasarnya merupakan tahap kata tanpa makna mulai dari
bulan keenan hingga satu tahun.
2.
Tahap II (Linguistik)
Tahap ini terdiri
daritahap I dan II. Tahap-1; holafrastik (1 tahun), ketika anak-anak mulai
menyatakan makna keseluruhan frasa atau kalimat dalam satu kata. Tahap ini juga
ditandai dengan perbendaharaan kata anak hingga kurang lebih 50 kosa kata.
Tahap-2; frasa (1 – 2), pada tahap ini anak sudah mampu mengucapkan dua kata
(ucapan dua kata). Tahap ini juga ditandai dengan perbendaharaan kata anak
sampai dengan rentang 50 – 100 kosakata.
3.
Tahap III (pengembangan tata bahasa,
yaitu prasekolah 3,4,5 tahun).
Pada tahap ini anak
sudah dapat membuat kalimat, seperti telegram. Dilihat dari aspek pengembangan
tata bahasa seperti: S-P-O, anak dapat memperjuangkan kata menjadi satu
kalimat.
4.
Tahap IV (tata bahasa menjelang dewasa,
yaitu 6 – 8 tahun).
Tahap ini ditandai
dengan kemampuan yang mampu menggabungkan kalimat sederhana menjadi kalimat
kompleks.
C. Teori
dan Konsep Pemerolehan Bahasa
Ada 3 teori dalam perolehan bahasa
pada anak antara lain:
1.
Teori Behaviorisme
Teori Behaviorisme mulanya adalah teori belajar dalam
psikologi yang telah muncul sejak 1940-an s/d awal 1950-an dan John B. Watson
dianggap sebagai pelopor utama dalam teori ini. Kaum behaviorisme menerangkan
bahwa proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak,
yaitu oleh rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Istilah bahasa bagi
kaum behaviorisme dianggap kurang tepat karenan istilah bahasa itu menyiaratkan
suatu wujud, sesuatu yang dimiliki atau digunakan, dan bukan sesuatu yang
dilakukan. Padahal bahasa itu merupakan salah satu perilaku, di antara
perilaku-perilaku manusia lainnya. Menurut kaum behaviorisme kemampuan
berbicara dan memahami bahasa oleh anak diperoleh melalui rangsangan dari
lingkungannya. Anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya,
tidak memiliki peranan yang aktif di dalam proses perkembangan perilaku
verbalnya. Bahkan kaum behaviorisme tidak mengakui kematangan anak dalam
pemerolehan bahasa. Kaum behaviorisme tidak mengakui pandangan bahwa anak
menguasai kaidah bahasa dan memiliki kemampuan untuk mengabstrakkan cirri-ciri
penting dari bahasa di lingkungannya. Mereka berbendapat rangsangan (stimulus)
dari lingkungan tertentu memperkuat kemampuan berbahasa anak. Perkembangan
bahasa mereka pandang sebagai suatu kemajuan dari pengungkapan verbal yang
berlaku secara acak sampai ke kemampuan yang sebenarnya untuk berkomunikasi
memalui prinsip pertalian S – P (stimulus – respon) dan proses
peniruan-peniruan.
Skinner, mendefinisikan bahwa pembelajaran dipengaruhi
oleh perilaku yang dibentuk oleh lingkungan eksternalnya, artinya pengetahuan
merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungannya melalui pengondisian
stimulus yang menimbulkan respons. Perubahan lingkungan pembelajaran dapat
memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku anak secara bertahap. Perilaku
positif pada anak cenderung akan diulang ketika mendapat dorongan yang sesuai
dengan kemampuan anak dari lingkungannya. Latihan untuk anak harus menggunakan
bentuk-bentuk pertanyaan (stimulus) dan jawaban (respons) yang dikenalkan
secara bertahap, mulai dari yang sederhana sampai pada yang lebih rumit.
2.
Teori Nativisme
Teori ini dipelopori oleh Noam Chomsky pada awal tahun 1960-an
sebagai bantahan terhadap teori belajar bahasa yang dilontarkan oleh kaum
behaviorisme tersebut, Nativisme berpendapat bahwa selama
proses pemerolehan bahasa pertama, kanak-kanak (manusia) sedikit demi sedikit
membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah diprogramkan. Pandangan
ini tidak mengangggap lingkungan punya pengaruh dalam pemerolehan bahasa,
melainkan mengganggap bahwa bahasa merupakan biologis, sejalan dengan yang
disebut “hipotesis pemberian alam”. Kaum
nativis berpendapat bahwa bahasa itu terlalu kompleks dan rumit, sehingga
mustahil dapat dipelajari dalam waktu singkat melalui metode seperti “peniruan”
(imitation). Jadi, pasti ada beberapa aspek penting mengenai system bahasa yang
sudah ada pada manusia secara alamiah.
Menurut Chomsky (1965, 1975) bahasa hanya dapat dikuasai
oleh manusia, Binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia. Pendapat
ini didasarkan pada asumsi. Pertama,perilaku bahasa adalah
sesuattu yang diturunkan (genetik); pola perkembangan bahasa adalah sama pada
semua macam bahasa dan budaya (merupakan sesuatu yang universal); dan
lingkungan hanya memiliki peran kecil di dalan proses pematangan bahasa. Kedua,
bahasa dapat dikuasai dalam waktu singkat, anak berusia empat tahun sudah dapat
berbicara mirip dengan orang dewasa. Ketiga, lingkungan bahasa si anak tidak
dapat menyediakan data secukupnya bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari
orang dewasa.
Menurut Chomsky, seorang anak dibekali “alat pemerolehan
bahasa” (language acquisition device (LAD). Alat yang merupakan pemberian
biologis yang sudah diprogramkan untuk merinci butir-butir yang mungkin dari
suatu tat bahasa, dan dianggap sebagai bagian fisiologis dari otak yang
khususuntuk memproses bahasa, yang tidak punya kaitannya dengan kemempuan kognitif
lainnya.
3.
Teori Kognitivisme
Munculnya teori ini dipelopori oleh Jean Piaget (1954)
yang mengatakan bahwa bahasa itu salah satu di antara beberapa kemampuan yang
berasal dari kematangan kognitif. Jadi perkembangan bahasa itu ditentukan oleh
urutan-urutan perkembangan kognitif.
Menurut Piaget struktur yang kompleks itu bukan pemberian
alam dan bukan sesuatu yang dipelajari dari lingkungan melainkan struktur itu
timbul secara tak terelakkan sebagai akibat dari interaksi yang terus menerus
antara tingkat fungsi kognitif anak dengan lingkungan kebahasaannya. Jadi,
sebetulnya kaum kognitivisme berusaha menggabungkan peran lingkungan dan faktor
bawaan, namun lebih besar ditekankan pada aspek berpikir logis (the power of
logical thinking).
D. Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Ada dua faktor paling signifikan
yang mempengaruhi anak dalam berbahasa, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal.
1.
Faktor Internal
a)
Evolusi Biologi
Evolusi biologis menjadi salah satu landasan perkembangan
bahasa. Mereka menyakini bahwa evolusi biologi membentuk manusia menjadi
manusia linguistik. Noam Chomsky (1957) meyakini bahwa manusia terikat secara
biologis untuk mempelajari bahasa pada suatu waktu tertentu dan dengan cara
tertentu. Ia menegaskan bahwa setiap anak mempunyai language acquisition device
(LAD), yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa. Tahun-tahun awal masa
anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa (critical-period).
Jika pengenalan bahasa tidak terjadi sebelum masa remaja, maka ketidakmampuan
dalam menggunakan tata bahasa yang baik akan dialami seumur hidup. Selain itu,
adanya periode penting dalam mempelajari bahasa bisa dibuktikan salah satunya
dari aksen orang dalam berbicara. Menurut teori ini, jika orang berimigrasi
setelah berusia 12 tahun kemungkinan akan berbicara bahasa negara yang baru
dengan aksen asing pada sisa hidupnya, tetapi kalau orang berimigrasi sebagai
anak kecil, aksen akan hilang ketika bahasa baru akan dipelajari.
b)
Jenis Kelamin
Anak perempuan lebih baik dalam belajar bahasa daripada
anak laki-laki, baik dalam pengucapan, kosa kata, dan tingkat keseringan
berbahasa, daripada anak laki-laki.
c)
Kecerdasan
Anak yang memiliki kecerdasan tinggi, akan belajar
berbicara lebih cepat dan memiliki penguasaan bahasa yang lebih baik daripada
anak yang tingkat kecerdasannya rendah. Belajar bahasa erat kaitannya dengan
kemampuan berpikir. Bahasa mengungkapkan apa yang dipikirkan anak.
d)
Keinginan dan dorongan untuk
berkomunikasi serta hubungan dengan teman sebaya
Semakin kuat keinginan dan dorongan berkomunikasi dengan
orang lain, terutama bermain dengan teman sebaya, akan semakin kuat pula usaha
anak untuk berbicara atau berbahasa.
e)
Kepribadian
Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung
memiliki kemampuan berbicara atau berbahasa lebih baik daripada anak yang
mengalami masalah atau kendala dalam penyesuaian diri dan sosial. Kemampuan
berbahasa anak yang memiliki kepribadian dan penyesuaian diri yang baik juga
akan lebih baik secara kuantitas (jumlah kata dan keseringan bicara) maupun
secara kualitas (ketepatan pengucapan dan isi/topik pembicaraan).
2.
Faktor Eksternal
a)
Faktor Kognitif (Pola Asuh)
Individu merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan
pada perkembangan bahasa anak. Para ahli kognitif juga menegaskan bahwa
kemampuan anak berbahasa tergantung pada kematangan kognitifnya. Tahap awal
perkembangan intelektual anak terjadi dari lahir sampai berumur 2 tahun. Pada
masa itu anak mengenal dunianya melalui sensasi yang didapat dari inderanya dan
membentuk persepsi mereka akan segala hal yang berada di luar dirinya.
Misalnya, sapaan lembut dari ibu/ayah ia dengar dan belaian halus, ia rasakan,
kedua hal ini membentuk suatu simbol dalam proses mental anak. Perekaman
sensasi nonverbal (simbolik) akan berkaitan dengan memori asosiatif yang
nantinya akan memunculkan suatu logika. Bahasa simbolik itu merupakan bahasa
yang personal dan setiap bayi pertama kali berkomunikasi dengan orang lain menggunakan
bahasa simbolik. Sehingga sering terjadi hanya ibu yang mengerti apa yang
diinginkan oleh anaknya dengan melihat/mencermati bahasa simbol yang
dikeluarkan oleh anak. Para ahli sepakat bahwa pemerolehan bahasa sangat
dipengaruhi oleh penggunaan bahasa sekitar. Dengan kata lain, perjalanan
pemerolehan bahasa seorang anak akan sangat bergantung pada lingkungan bahasa
anak tersebut (Yudibrata, 1998: 65). Sebelum anak memasuki lingkungan sosial
yang lebih luas, masa bermain dan bersekolah, lingkungan keluarga sebaiknya
bisa menjadi arena yang menyenangkan bagi proses perkembangan bahasa anak.
Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan orangtua adalah guru pertama yang
bisa mengantar anak menuju gerbang pendidikan formal. Sebaik mungkin orangtua
membuat kondisi rumah sedemikian rupa agar mampu menghasilkan stimulus positif
sebanyak dan sevariatif mungkin. Stimulus yang diberikan orangtua akan
terbingkai dalam pola pikir, pola tindak, dan pola ucap anak. Jika orangtua
menginginkan anaknya santun berbahasa, maka berikan stimulus yang positif.
Setiap aktivitas yang ada dan terjadi di lingkungan rumah merupakan rangkaian
dari proses pemerolehan karakter yang sifatnya berkala dan berkesinambungan.
Dalam hal ini orangtua berperan sebagai motor penggerak yang memegang kendali
pertama dan utama dalam perkembangan bahasa anak melalui (salah satunya) pola
asuh yang mendidik.
b)
Lingkungan Luar
Sementara itu, di sisi lain proses penguasaan bahasa
tergantung dari stimulus dari lingkungan. Pada umumnya, anak diperkenalkan
bahasa sejak awal perkembangan mereka, salah satunya disebut motherse, yaitu
cara ibu atau orang dewasa, anak belajar bahasa melalui proses imitasi dan
perulangan dari orang-orang disekitarnya. Pengenalan bahasa yang lebih dini
dibutuhkan untuk memperoleh ketrampilan bahasa yang baik. Tiga faktor di atas
saling mendukung untuk menghasilkan kemampuan berbahasa maksimal. Orang tua,
khususnya, harus memberikan stimulus yang positif pada pengembangan
keterampilan bahasa pada anak, seperti berkomunikasi pada anak dengan kata-kata
yang baik dan mendidik, berbicara secara halus, dan sebisa mungkin membuat anak
merasa nyaman dalam suasana kondusif rumah tangga yang harmonis, rukun, dan
damai. Hal tersebut dapat menstimulus anak untuk bisa belajar berkomunikasi
dengan baik karena jika anak distimulus secara positif maka akan mungkin untuk
anak merespon secara positif pula.
c)
Kesehatan
Anak yang sehat lebih cepat belajar berbicara
dibandingkan dengan anak yang kurang sehat atau sering sakit. Hal ini
dikarenakan perkembangan aspek motorik dan aspek mental berbicaranya lebih baik
sehingga lebih siap untuk belajar berbicara. Motivasi berbahasa didorong oleh
keinginan untuk menjadi anggota kelompok sosial dan berkomunikasi dengan
anggota kelompok tersebut. d. Keluarga (jumlah anggota keluarga, urutan
kelahiran, dan metode latihan berbicara) Semakin banyak jumlah anggota
keluarga, akan semakin sering anak mendengar dan berbicara. Demikian juga, anak
pertama lebih baik perkembangan berbicaranya karena orang tua lebih banyak
mempunyai waktu untuk mengajak dan melatih mereka berbicara.
Sedangkan dalam perkembangan berbahasanya, potensi anak
untuk berbicara didukung beberapa hal, diantaranya:
·
Kematangan alat berbicara
·
Kesiapan berbicara
·
Adanya model yang baik untuk dicontoh
oleh anak
·
Kesempatan berlatih
·
Motivasi untuk belajar dan berlalih
·
Bimbingan
E. Langkah-langkah
untuk Membantu Perkembangan Bahasa Anak
Langakah-langkah
untuk membantu perkembangan bahasa anak yaitu :
1.
Membaca, kegiatan ini adalah kegiatan
yang paling penting yang dapat dilakukan bersama anak setiap hari. Ketika orang
tua membaca, tunjuklah gambar yang ada di buku dan sebutkan nama dari gambar
tersebut keras-keras. Mintalah anak untuk menunjuk gambar yang sama dengan yang
ada sebutkan tadi.
2.
Berbicaralah mengenai kegiatan sederhana
yang orang tua dan anak lakukan dengan menggunakan bahasa yang sederhana.
3.
Perkenalkan kata-kata baru pada anak
setiap hari, dapat berupa nama-nama tanaman, nama hewan ataupun nama makanan
yang disiapkan baginya.
4.
Cobalah untuk tidak menyelesaikan
kalimat anak. Berikan kesempatan baginya untuk menemukan sendiri kata yang
tepat yang ingin dia sampaikan.
5.
Berbicaralah pada anak setiap hari, dan
pandanglah mereka ketika berbicara atau mendengarkan mereka. Biarkan mereka
tahu bahwa mereka sangat penting.
F. Fungsi
Perkembangan Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini
Dalam pembahasan fungsi berbahasa
bagi anak taman kanak-kanak, dapat dilihat dari berbagai sudut pandang,
terutama ditujukan pada fungsi secar langsung pada anak itu sendiri ada beberapa
sumber yang telah mencoba mamberikan pembelajaran dari fungsi bahasa bagi anak
taman kanak-kanak, diantaranya menurut Depdiknas (dalam zsusanti, 2000) fungsi
perkembmangan bahasa bagi anak prasekolah adalah sebagai alat untuk
berkomunikasi dengan lingkungan, sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan
intelektual anak, sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak dan sebagai
alat untuk menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain.
Terdapat beberapa fungsi bahasa
menurut Halliday (dalam Moeslichatoen 2004: 95) yaitu bahasa sebagai alat yang
dapat memuaskan kebutuhan anak untuk menyatakan keinginannya. Hal ini biasanya
dinyatakan dengan “saya ingin”.Bahasa juga berfungsi mengatur anak untuk dapat
mengendalikan tingkah laku orang lain. Bahasa berfungsi sebagai hubungan antar
pribadi dalam lingkungan sosial. Selanjutnya bahasa juga berfungsi bagi diri
anak sendiri. Anak menyatakan pandangannya, perasaannya, dan sikapnya yang unik
serta melalui bahasa anak dalam membangun jati diri anak.
Lain halnya menurut Gardner (dalam
Susanto 2011: 8) bahwa fungsi bahasa bagi anak taman kanak-kanat adalah sebagai
alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kemampuan dasar anak. Secara
khusus bahwa fungsi bahasa bagi anak taman kanak-kanak adalah untuk
mengembangkan ekspresi, perasaan, imajinasi, dan pikiran.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa fungsi pengembangan kemampuan berbahasa bagi anak taman
kanak-kanak antara lain; (a) sebagai alat untuk berkomunikasi dengan
lingkungan, (b) sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak,
(c) sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak, dan (d) sebagai alat untuk
menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain.
G. Implikasi
Perkembangan Bahasa Terhadap Pendidikan
Implikasi perkembangan bahasa anak
terhadap segi pendidikan salah satunya adalah terhadap penyelenggaraan
pendidikan. Sebagai individu yang sedang tumbuh dan berkembang, maka proses
pertumbuhan dan perkembangan peserta didik sangat dipengaruhi oleh perkembangan
bahasa. Bahasa merupakan sebuah pengantar. Jika telah memahami bahasa maka
tidak akan sulit bagi anak untuk menerima pesan ataupun kata-kata yang
diucapkan oleh seorang guru. Karena Perkembangan bahasa adalah merupakan proses
alamiah yang difasilitasi oleh kesempatan-kesempatan memanfaatkan bahasa dalam
aktivitas sehari-hari. Para guru dapat mengintruksikan kepada para siswa untuk
mengekspresikan dirinya secara verbal dan dalam bentuk tulisan ketika mereka
memecahkan persoalan dan menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Perkembanngan bahasa yang
menggunakan model pengeksplorasian secara mandiri, baik lisan maupun tertulis,
dengan mendasarkan pada bahan bacaan akan lebih mengembangkan kemampuan bahasa
anak membentuk pola bahasa masing-masing. Dalam penggunaan model ini guru harus
banyak memberikan rangsangan dan koreksi dalam bentuk diskusi atau komunikasi
bebas. Dalam itu saran pengembangan bahasa seperti buku-buku, surat kabar,
majalah dan lain-lainnya hendaknya disediakan di sekolah maupun di rumah. Jadi perkembangan bahasa sangat penting dalam
penyelenggaraan proses pendidikan disekolah. Perkembangan bahasa sangat penting
karena melalui bahasa, anak dapat mengekspresikan pikiran, sehingga orang lain
memahaminya dan menciptakan suatu hubungan sosial. Jadi, tidaklah mengherankan
bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu indikator kesuksesan seorang anak.
Berdasarkan prinsip dalam
perkembangan bahasa, implikasinya terhadap perkembangan anak adalah anak dapat
lebih leluasa dalam mengembangkan kemampuan bahasanya dalam kehidupan sehari-
hari.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bahasa merupakan kode atau suatu
system lambang berupa bunyi (lisan), tertulis, dan urutan kata-kata yang
diterima secara konvensional dan digunakan oleh suatu masyarakat untuk
menyampaikan konsep-konsep atau ide-ide dan berkomunikasi melalui penggunaan
symbol-simbol yang disepakati dan kombinasi symbol-simbol yang diatur oleh
ketentuan yang ada.
Perkembangan bahasa adalah
meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat komunikasi
dengan cara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat, mampu
menguasai alat komunkasi disini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat
memahami dan dipahami orang lain.
Secara umum, perkembangan
keterampilan berbahasa pada individu menurut Berk (1989¬) dapat dibagi ke dalam
empat komponen atau system yang saling mempengaruhi, yaitu fonologi (phonology),
semantik (semantic), tata bahasa (grammar), dan pragmatic (pragmatics). Tahapan
perkembangan bahasa dapat dibedakan ke dalam beberapa tahap yaitu tahap
pralinguistik, tahap linguistic, pengembangan tata bahasa, tata bahasa
menjelang dewasa.
Adapun teori pemerolehan bahasa yaitu teori behaviorisme,
teori nativisme, teori kognitivisme. Serta faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa yaitu factor
internal dan factor eksternal.
Langkah-langkah untuk membantu
perkembangan bahasa anak yaitu membaca, berbicaralah mengenai kegiatan
sederhana yang orang tua dan anak lakukan dengan menggunakan bahasa yang
sederhana, berkenalkan kata-kata baru pada anak setiap hari, cobalah untuk
tidak menyelesaikan kalimat anak, berbicaralah pada anak setiap hari, dan
pandanglah mereka ketika berbicara atau mendengarkan mereka. Biarkan mereka
tahu bahwa mereka sangat penting.
Fungsi pengembangan kemampuan
berbahasa bagi anak taman kanak-kanak antara lain; (a) sebagai alat untuk
berkomunikasi dengan lingkungan, (b) sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan
intelektual anak, (c) sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak, dan (d) sebagai
alat untuk menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain.
Implikasi perkembangan bahasa anak
terhadap segi pendidikan salah satunya adalah terhadap penyelenggaraan
pendidikan. Sebagai individu yang sedang tumbuh dan berkembang, maka proses pertumbuhan
dan perkembangan peserta didik sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa.
Bahasa merupakan sebuah pengantar. Jika telah memahami bahasa maka tidak akan
sulit bagi anak untuk menerima pesan ataupun kata-kata yang diucapkan oleh
seorang guru.
BAFTAR PUSTAKA
8.
Buku Perkembangan Peserta Didik
Semoga Bermanfaat ... :)
Langganan:
Komentar (Atom)
